|
Changsha, Hunan, 16 mei 2011
Dari kecil aku sudah mengenal ajaran Buddha, kehidupan pangeran yang melepaskan semuanya untuk mencari jawaban tentang kehidupan. Tentang 4 peristiwa yang ditemui, tentang hukum 4 kesunyataan mulia yang diajarkan, semuanya...
Tetapi baru saat ini, aku "benar-benar" menyadari bahwa melepaskan semua kenyamanan itu sesuatu yang sangat sulit. Lihat kembali betapa meriah pesta perkawinan pangeran inggris bulan april 2011 yang lalu, terpikirkan olehku, mampukah pangeran tsb melepaskan semuanya dan menjalani kehidupan seperti yang dipilih oleh Pangeran Siddharta? Meninggalkan istrinya yang cantik dan semua kemewahan yang ada, hidup sebagai pertapa?
Saat ini aku tinggal di kompleks perumahan di sebelah selatan Changsha dan terpikir untuk pindah ke apartemen baru yang lebih dekat ke sekolah anak. Cari-cari, sampai hari ini, belum ketemu apartemen dengan fasilitas dan suasana yang sama baiknya dengan lingkungan sekarang ini. Untuk 'downgrade' dari apartemen yang sekarang ini, ke apartemen yang lebih kecil, rasanya kok sulit ya. Ini aku loh ya. Melepaskan comfort zone bukanlah sesuatu yang mudah.
Dulu aku pernah tinggal di vihara hutan di Udon Thani di Thailand selama 1 minggu di thn 2007, hidup seadanya, makan seadanya, latihan meditasi. Dan selama disana, aku merindukan rumah... Rumah yang bebas dari nyamuk, tempat tidur yang nyaman, kamar mandi yang dekat (kalau di hutan harus berjalan jauh baru ketemu kamar mandi).
Dan sekarang aku memikirkan kehidupan Pangeran Siddharta di jaman dulu... Betapa mulianya tekad beliau dan betapa beraninya mengambil keputusan tersebut untuk sebuah tujuan yang ingin dicapainya. Beliau berguru dari guru ke guru dan akhirnya menemukan sendiri jawabannya. Jawaban itu diajarkannya ke kita semua.
Sebuah keinginan yang begitu mulia untuk membebaskan manusia dari penderitaan. Aku juga dulu tidak mengerti kenapa hidup ini disebut sebagai penderitaan, sebuah kehidupan yang berulang-ulang, nafsu serakah, kemarahan, perasaan iri hati, perasaan cinta kasih, belas kasihan, empathy dan keseimbangan batin; semua itu seperti sesuatu yang mudah dimengerti tetapi perlu waktu yang lama untuk bisa mencerna kembali.
Dan hari ini, ketika "bao mu" yang setiap minggu datang ke apartemenku membersihkan rumah mengeluh tentang hidupnya, aku mulai bercerita kepadanya bahwa kebahagiaan itu datang dari hati, bukan dari uang. Banyak juga orang kaya yang tidak bahagia dan ada juga orang yang tidak kaya tetapi bahagia. Bahwa sangat sulit mengatakan cukup itu adalah cukup. Tetapi dia tetap tidak mengerti. Bahwa bila suaminya tidak mampu bekerja, diperlukan kebesaran hati untuk berbagi uang hasil kerja kerasnya dengan suaminya. Buddha sering menganjurkan kita untuk berdana, membantu orang lain yang membutuhkan. Berdana adalah salah satu metode yang paling efektif untuk melepaskan keterikatan kita akan uang. Kapan terakhir kita membantu saudara kita?
Ketika masalah datang menimpa, yang kita pikirkan adalah diri kita sendiri. Karena itulah kita menderita. Buddha mengajarkan kita untuk empathy pada orang lain, dengan kata lain, belajar berpikir dari sisi yang lain, berpikir jernih. Buddha juga mengajarkan kita untuk berbelas kasihan atas penderitaan orang lain. Ketika masalah itu datang, selalu ada yang menyebabkannya, terkadang penyebab penderitaan kita adalah karena tindak tanduk orang lain. Nah, ketika kita belajar mengerti orang itu dan berbelas kasihan atas penderitaannya, ketika itulah rasa marah kita pun hilang. Perasaan ingin benar dan ingin menang itulah yang membuat kita menderita sebenarnya, bukan orang lain.
Rasa marah itu yang membuat kita semakin menderita. Lahir dari keluarga yang kurang harmonis, masa kecilku penuh dengan kemarahan akan lingkungan yang tidak adil. Aku baru mengerti cara mengendalikan rasa marah setelah melalui latihan bertahun-tahun, walaupun belum sampai level kesabaran yang aku inginkan, tetapi saat ini aku lebih mengerti akan rasa marahku dan ketika marah itu datang, aku mulai bisa memeluk kemarahan itu erat-erat. Dengan memeluk kemarahan itu, bukan berarti aku tidak marah lagi, tetapi marah itu tidak sampai merusak diriku. Sesuatu yang kita peluk dan kita sadari, tidak lagi membahayakan diri kita. Coba peluklah anak yang sedang marah, dia tidak bisa marah lagi karena pelukan itu menenangkan. Peluklah kemarahan kita.
Kenapa "marah" begitu dahsyat?
Zen Master Thich Nhat Hanh (biasa dipanggil Thay, guru) perlu menulis satu buku, hanya untuk menjelaskan tentang fenomena rasa marah. Judul bukunya adalah "anger", bisa didapatkan di gramedia, terbitan karaniya atau order online di www.karaniya.com.
Biasakan budaya membaca karena dengan membaca kita membuka jendela mata kita ke dunia yang jauh lebih luas daripada dunia kecil di sekeliling kita. Pengalaman para penulis selama bertahun-tahun, bisa kita akses dengan membaca buku-buku mereka.
Mengikuti retret juga salah satu metode yang membuatku berubah. Tujuan retret adalah untuk membuka simpul-simpul di hati kita. Seperti Thay bilang, bahwa terdapat 2 simpul di hati kita. Simpul pertama yaitu ide-ide dan konsep yang membuat kita terikat dan tidak bebas. Simpul kedua yaitu kekotoran batin seperti kemarahan, putus asa, diskriminasi, putus asa, rasa sombong. Keduanya membuat kita terikat dan menderita. Semua simpul itu harus diputuskan agar kita menjadi bebas. Yang dilakukan ketika retret seperti berjalan, duduk, bernapas, tersenyum, mendengarkan petunjuk master, semuanya membantu kita untuk memutus simpul-simpul tersebut. Untuk info-info retret, bisa email ke
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.
Selamat merayakan hari raya Waisak teman-teman sekalian, semoga kita semua mendapatkan pencerahan di hati kita.
Salam dari china,
Jenty Siswanto dan keluarga.
|